Masihkan Jogja Never Ending Asia…

malioboro-kala-senja

Buat kita warga Jogja mungkin masih teringat beberapa tahun yang lalu kata-kata “Jogja Never Ending Asia”. Kita sering melihat diberbagai tempat, buku-buku, papan reklame dan lain-lain. Tapi saat ini sepertinya tulisan itu seakan hilang. Jarang kita jumpai lagi. Kemanakah Slogan Jogja tersebut?

Kalau kita melihat dari makna kata tersebut sangatlah luar biasa. Saya melihat visi yang hebat dari kata Jogja Never Ending Asia, yang artinya Jogja menjadi sebuah kawasan atau kota yang mengemuka di Asia. Apakah upaya menjadikan Jogja sebagai kota yang unggul di Asia dianggap tidak tercapai hingga Slogan tersebut dianggap sudah tidak layak lagi atau terlalu berat?

Kita bisa melihat negara tetangga di sekitar kita seperti Singapore dan Malaysia yang saat ini bisa dianggap sebagai sentra Asia, khususnya kawasan Asia Tenggara. Malaysia pun juga membuat slogan yang tidak jauh beda dengan kita Malaysia Truely Asia. Saya melihat positioning negara tetangga kita jelas, Singapore memposisikan diri sebagai pusat bisnis dan perdagangannya. Sedangkan Malaysia mengangkat citra negara mereka melalui wisata dan budaya. Meski sebenernya budaya itu bukanlah asli dari mereka tetapi ditiru dari Negri Indonesia tercinta Dimana Malaysia sangat lihai dalam mengkemas dan menjual negaranya ke wisatawan luar negri, Malaysia sangat lihai dalam mengkemas dan menjual negaranya ke wisatawan luar negri.

Nah yang menjadi pertanyaan kita dimanakah positioning Jogja, apakah keunggulan kompetitif Jogjakarta yang menjadikan Jogja bersinar di kawasan Asia. Pariwisata? perdagangan? industri? Budayanya?…atau yang lain?? Adakah karakter atau kekuatan yang yang sudah dimiliki oleh Jogja? Dan sudahkah keunggulan itu dipahamai oleh Pemerintah Jogja dan kemudian mewujudkan slogan itu menjadi sebuah kenyataan?

Saya melihat Jogja memiliki kekayaan yang luar biasa sebagai pusat kebudayaan khususnya Jawa. Keunikan dan keluhuran budaya Jogja ini sangat lah luar biasa. Sebenernya kalau kita sadar, Jogja mungkin lebih dari 1000 tahun yang lalu adalah kawasan yang berperadaban tinggi. Sebagai buktinya pada tahun 800 Masehi sudah dibangun candi termegah di dunia yaitu Borobudur. Candi Tertinggi ada prambanan. Dimana kawasan lain di belahan dunia masyarakatnya masih bodoh dan jahiliyah di kawasan Jogja masyarkatnya ternyata sangat cerdas. Namun entah apa kehebatan masa itu tiba-tiba hilang…seiring terjadinya berbagai bencana di Indonesia seperti ledakan Merapi dan Krakatau.

Harusnya kita angkat kembali kejayaan kita sebagai Pusat Kebudayaan. Kita perlu menyadari bahwa warisan budaya bukanlah suatu yang sifatnya statis atau sebuah peninggalan yang dikeramatkan. Tetapi budaya merupakan sesuatu yang dinamis bahkan bukan anti dengan modernisasi dan globalisasi. Budaya pun perlu didorong dengan kemajuan teknologi untuk semakin berkembang dan mendunia. Kita harus menemukan Mutiara Hitam yang terpendam dalam lumpur yang bisa kita jadikan itu bersinar. Dengan demikian terciptalah icon-icon Jogja yang akan membuka mata dunia dan menjadi pengingat tentang Jogja. Jika orang menyebut Sake itu adalah dari Jepang. Bisa tidak Wedang Uwuh misalnya ketika di sebut orang di negara mana pun tahu itu adalah dari Jogja. Atau kalau disebut keramahan orang akan tahu bahwa itu Jogja. Bali kalau saya lihat telah berhasil memiliki positioning di kancah dunia. Mereka sering disebut “Surga Dunia” bahkan artis Richard Gere pun berkata demikian karena terpesona keindahan alamnya dan culture yang sangat dipegang teguh oleh masyarakat lokal.

Jogja oh Jogja….mari bersama-sama kita cari kearifan lokal (wisdom) kita yang bisa menjadi magnet dunia. Kemudian kita pikirkan strategi marketing dan bagaimana membangun global brand. Tentunya peranan inti ada di  pemerintah Jogja sangat dibutuhkan untuk merealisasikan ini. Dan sangatlah penting dukungan dunia bisnis, akademisi, masyarakat dan individu dalam mendorong dan mempercepat misi tersebut.

Ini hanya sebuah pikiran dalam hati saya ketika mengingat Brand “Jogja Never Ending Asia” yang begitu jauh melangkah kedepan ternyata perlahan mulai terlupakan. Jika visi ini berhasil tentunya Jogja akan menjadi kota yang mengemuka bahkan tidak hanya dari aspek budaya, tetapi faktor lain seperti pariwisata, perdagangan, investasi dan lain-lain akan ikut terdorong. Dan tentunya akan meningkatakan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat Jogja. Ayo kita ingat kembali dan wujudkan “Jogja Never Ending Asia” kota yang tidak pernah lekang di Asia.

(Oleh : Yuda Wicaksana Putra)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s